Pelajaran dari Kematian

Kali ini gue post tentang sesuatu yang selalu membuat gue sadar,, kalau semuanya hanya sementara.. tahun kemarin (28 Desember 2011) sahabat terbaik gue meninggal karena kecelakaan kerja,, dan tahun ini (23 Desember 2012) junior gue meninggal karena kecelakaan lalu lintas.. dan inilah contoh bahwa umur itu tidak kenal usia dan tidak tau kapan akan menghampiri kita,, tidak mesti yang tua lebih dahulu,, bisa jadi kita yang muda terlebih dahulu.. yang dapat kita perbuat hanya mmpersiapkan modal untuk melewati kehidupan kekal kelak,, apakah modal kita sudah cukup atau malah minus..

Salah satu hal yang terlintas dalam benak saya adalah hadis ini; sebaik-baik pelajaran adalah kematian.
Ya, kita manusia seringkali lupa pada-Nya, dan acuh jika diingatkan. Maka, mungkin satu-satunya teguran dan tamparan yang bisa membuat kita tersentak adalah kematian.
Dengan kematian, keluarga dan sahabat korban belajar mengikhlaskan kepergian orang terkasih.
Dengan kematian, mereka yang hidup dapat belajar mensyukuri hidup.
Dengan kematian, kita dapat lebih menghargai hidup, dan saya belajar bahwa setiap detik hidup ini berharga dan tidak layak dihabiskan sia-sia.
Hidup, selama apapun kita ingin berada di dalamnya, ternyata cuma fase singkat. Sama singkat seperti pengembara yang istirahat beberapa menit untuk minum dan menghimpun bekal, sebelum melanjutkan perjalanan.
Hidup, sekuat apapun denyutnya, bisa direnggut kapan saja oleh maut. Pertanyaan yang sering menghantui kita adalah:
Kapan giliran kita?
 
Bagaimana cara kita meninggalkan dunia ?
Mungkin… Sebaiknya kita biarkan saja jawaban-jawaban dari dua tanda tanya ini tetap menjadi rahasia Sang Penentu Takdir. Mungkin, sebaiknya kita tanyakan satu hal penting pada diri masing-masing:
Siapkah saya?
 
Siapkah kita bila maut menjemput?

.

dan ini adalah tulisan yang saya copy dari post sebuah jejaring sosial..

Sesungghuhnya Allah telah memberikan ketetapan kematian kepada semua insan. Dan berkenaan dengan kematian, manusia terbagi menjadi tiga kelompok besar :

1.    Orang dengan hati yang mati.

Memiliki hati yang membatu bahkah lebih keras dari itu, jauh dari sang Kholiq, bodoh terhadap syariat-Nya dan tidak mengetahui perintah-perintah-Nya. Dengan kondisi semacam ini kehidupannya ibarat kehidupan binantang. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ اْلأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang.Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)

Dan di dalam kebodohan terdapat kematian bagi pemiliknya sebelum kematiannya yang hakiki. Jasadnya sudah terkubur sebelum penguburan hakikinya. Sedangkan ruhnya

2.    Orang yang senantiasa berada di jalan ketaatan kepada  Allah SWT.

Berpijak pada koridor syariat-Nya, melaksanakan semua syariat agama. Membenarkan khabar-khabar dari Alloh dan Rasul-Nya. Namun, setelah kematian menjemputnya terputus sudah dari ingatan manusia karena dia tidak meninggalkan amalan yang senantiasa diingat dan bermanfaat untuk orang lain. Tidak meninggalkan amalan yang pahalanya terus menerus dia dapatkan sampai ke liang lahatnya. Orang seperti ini semisal dengan hamba yang disebutkan Allaoh dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Yasiin: 12)

3.     Orang yang senantiasa berada di dalam ketaatan kepada Allah SWT.

namun namanya akan selalu diingat manusia sepeninggal dia karena ilmu yang bermanfaat, akhlak yang baik lagi utama, karena perbuatan baiknya kepada hamba-hamba Alloh. Kematian orang di level ini disebutkan oleh Alloh dalam firman-Nya,

4. أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَالَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia,…” (Al An’am: 122)

Wahai saudaraku… bukankah kematian mengandung       banyak pelajaran dan nasehat bagi kita yang sedang belajar mengarungi ilmu ini?  Bagi kita yang sedang berupaya bersikukuh dengan agama yang lurus ini? Bukankah nama mereka tetap harum meski sudah berabad-abad berlalu cukup menjadi pelajaran berarti? Itulah kematian yang berbeda dari mereka yang meninggalkan harumnya nama dan jasa besar bagi umat ini.

Demi Allah wahai saudaraku…! Pergunakan tiap detik kita untuk menuntut ilmu syar’I dan mengajarkannya kepada manusia! Makmurkanlah setiap umur kita dengan ketaatan kepada Allah azza wa Jalla! Tentunya kita tahu bahwa setiap hal yang kita lakukan niscaya akan dipertanyakan oleh Allah, kelak pada hari kiamat. Berbuatlah sesuatu yang membawa manfaat untuk manusia. Sehingga setelah kematianmu namamu akan dikenang dan diingat manusia dengan kebaikan. Yang mungkin dengan sedikit hal yang kita kerjakan dalam kebaikan dan diikuti manusia Allah senantiasa mengucurkan pahalanya setelah kematian kita.
Berhati-hatilah wahai saudaraku dari ucapan yang buruk, ucapan yang dilandasi ambisi tertentu dan niat yang buruk. Hendaknya kita berhati hati dari melecehkan para ulama dan ahlul ilmi. Hindari berbangga diri dan meremehkan manusia. Utamakan diri untuk mempelajari ayat dan tafsirnya, hadits dan penjelasannya. Kedepankan sesuatu yang berfaedah, ceburkan diri dalam kehidupan ilmiah. Sibukkan dengan fatwa ulama yang berfaedah. Dan perhatikan segala hal yang bisa menghancurkan diri agar bisa selamat darinya.
Ingat saudaraku….kita senantiasa berada di hadapan Allah. Dan jadikan diri kita seumpama lebah yang mengkonsumsi sesuatu yang baik dan menghasilkan sesuatu yang baik juga. Jadikan kehidupan dan kematian kita seperti para ulama. Yang selalu mendapat pahala setelah kematiannya dan dikenang harum namanya.

Categories: Other", Tips" | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Komentar Sobat..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: